PEREMPUAN TERPILIH
Ia
menatap awan yang bergumpal-gumpal di samping jendela pesawat dengan hati
galau, awan itu seolah-olah melukis suasana hatinya yang sedang terkoagulasi di
banyak sisi. Telepon ibunya beberapa jam yang lalu melemparkannya ke sebuah ruang
yang penuh tanda tanya. Ibunya hanya meminta ia pulang. Titik.
“Injih
Bu’e, tapi apa harus sekarang? Faisal harus mengajukan ijin cuti dulu untuk
bisa pulang ke Indonesia?” Tanyanya dengan tertahan. Ia khawatir ini dinilai
sebagai penolakan seorang anak terhadap perintah sang ibu. Tak sekalipun ia
pernah membantah atau menolak permintaan ibunya. Orang yang sangat ia hormati.
Dan satu-satunya harta paling berharga dalam hidupnya, setelah sang ayah
meninggalkannya sejak usia 8 tahun.
Sang
ibu tidak menjawab. Dan Faisal tahu artinya ia tidak memerlukan jawaban dari
pertanyaannya. Ia harus pulang. Alhamdulillah, walau cukup ribet akhirnya ia
bisa melobi atasannya. Maka tepat pukul 10.00 waktu Abu Dabi, ia meluncur
meninggalkan kota tempat ia merintis kariernya sebagai supervisor pengeboran
minyak di Abu Dhabi Petroleum Company.
--**--
Laki-laki
dengan kulit sawo matang, hidung mancung, mata jernih dan rambut yang dibiarkan
agak panjang tergerai di pundaknya itu mengenang kembali kisah hidupnya. Dari
seorang anak yatim yang hidup di sebuah desa terpencil di Temanggung, kini ia
merintis karir sesuai dengan minatnya di bidang teknik perminyakan. 3 tahun
yang lalu, masih fresh graduate, ia mendapat panggilan untuk mengikuti tes
rekrutmen dari perusahaan minyak di Abu
Dhabi. Tidak banyak kesulitan, dengan prestasi cemerlangnya ketika kuliah di
University of Petronas Malaysia, ia langsung diterima.
Mengingat
perjalanan hidupnya yang begitu banyak mendapat kemudahan, Faisal tak pernah
lupa pada satu hal. Jasa ibu. Ia masih
ingat, bagaimana perjuangan sang Ibu sehingga ia bisa menempuh masa
pendidikannya. Sewaktu ia masih di sekolah dasar, Ibu sangat sempurna
menyediakan seluruh kebutuhannya. Dari mulai alat tulis sampai perlengkapan
seragamnya. Ibu tak pernah terlambat mempersiapkan kepergiannya ke sekolah.
Sarapan yang tepat waktu, seragam yang tertata rapi, sampai jadwal yang selalu
terkontrol dengan teliti. Padahal ia tahu, betapa ibu harus berjuang untuk
memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, setelah seluruh harta terkuras karena
sakit sang ayah. Ibu menjadi buruh apa
saja. Pagi hari menjadi buruh tanam di sawah-sawah tetangga. Siangnya ibu
menawarkan jasa cucian ke priyayi-priyayi di desanya. Ibunya yang cantik, tak
sempat merawat fisiknya lagi. Beda sekali dengan priyayi-priyayi desa yang
bedaknya tebal, gincu menyala, perhiasan yang terpasang di sana-sini seperti
toko perhiasan berjalan. Ibu, selalu di garda terdepan untuk kepentingan
pendidikannya, sampai ia masuk kuliah. Karena dorongan motivasi ibu yang kuat,
Faisal selalu mendapatkan beasiswa untuk sekolahnya. Bagaimana mungkin ia tega
menyakiti hati ibunya, bahkan sekedar mengatakan tidakpun ia tak berani.
Ia
tersenyum simpul, membayangkan segera bertemu dengan kekasih hatinya itu. 2 jam
lagi ia sampai di bandara Adi Sucipto.
--**--
“Bu’e
!“ teriak kecil Faisal ketika ia melihat sang ibu sudah menantinya di depan
rumah mungil mereka. Mereka berpelukan, ibu dan anak itu menuntaskan cintanya
dengan tetesan haru yang meluber tanpa bisa dibendung.
“Bu’e
hanya ingin kamu segera menikah Le, biar ada yang menemani ibu di
rumah,” kata sang ibu ketika mereka duduk berdua menikmati kopi panas khas
gemawang.
Faisal
berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia lempar pandangannya ke luar
jendela. Aroma kembang kopi mampir di hidungnya. Menyibak kekakuan berpikirnya,
agar ia bisa menyisihkan keegoan yang mendadak jumawa dalam dadanya.
Belum
juga Faisal menjawab, sang ibu sudah menyodorkan 5 buah amplop yang kesemuanya
berisi biodata lengkap dengan foto gadis-gadis yang diajukan sang ibu untuk
menjadi pendamping hidupnya.
Ia
menghela nafas, lalu berbisik lembut pada sang ibu, “ Beri Faisal waktu untuk
berpikir, nggeh Bue.”
Sehari
dua hari Faisal membaca semua data dari ibu. Ia tak juga memiliki kemantapan.
Istikharahnya pun tiada putus. Si Leni, gadis cantik dengan lesung pipit di
kedua pipinya, seorang perawat dan muslimah yang modis. Ia berpikir ah, ini
bukan tipeku. Nadia, guru di sebuah SMK favorite. Gadis berkacamata, bodi
sangat proporsional, cantik karena make up tebal yang sepertinya kurang cocok
dengan tugasnya sebagai guru. Lilia lulusan S2 dari UGM putri dari pak lurah
Karangseneng. Pintar, kulit sawo matang tapi cukup manis. Sayang dari beberapa
informasi yang diperolehnya, Lilia memiliki sifat sombong dan tidak bisa
bersosialisasi di masyarakat. Sedang Reni
masih terhitung misan dengannya, anak dari sepupu almarhum ayah. Kerja di bank,
setiap hari berangkat pagi-pagi, pulang menjelang malam. Terakhir Sarah, kata
orang-orang gadis turunan Jerman-Indonesia. Profesinya tidak jelas, katanya PR
di sebuah perusahaan, sangat cantik tapi ia gadis narsis yang mengumbar foto
selfinya tanpa hijab di medsos. Ah! Semuanya gadis-gadis yang tak cocok dengan
kecenderungan hatinya. Ia
menimbang-nimbang barangkali dari sekian ada yang sedikit saja mendekati
kriteria . Lama ia merenung . Bukankah istri adalah pasangan hidup yang ia
harapkan bisa mendampingi hingga akhir hayatnya, bahkan teman yang akan
menemaninya di syurga? Ia pun gamang.
Akhirnya
Faisal mencari pencerahan dengan berkunjung ke kyai Mukhlis di Langgar
Baiturrahim. Kyai Mukhlis adalah guru ngaji di masa kecil. Tak banyak bercerita
di sana. Hanya melihat wajah sang Kyai saja, Faisal merasakan kesejukan dalam
hati. Ini adalah hari ketiga, ia menemui beliau. Kyai Mukhlis menahan tangannya
ketika ia hendak berpamitan, lalu berbisik, “Tanyalah kata hatimu. Nasehat Imam
Hasan Al Bashri, Jika ada beberapa pilihan yang berat maka selisihilah
nafsumu.” Ia mengangguk. Bertepatan ketika kakinya melangkah keluar masjid, ia
bertemu dengan seorang ibu dengan anaknya. Sepertinya ia mengantar sang anak
untuk mengaji di surau. Matanya bersiborok dengan perempuan itu, lalu keduanya
membuang pandangnya. Hati Faisal berdebar.
--**--
Ada
kegiatan yang Faisal lakukan beberapa hari berikutnya. Wira-wiri antara pasar
dan rumah dengan bersepeda. Tiba di sebuah tempat, kira-kira 5 meter dari los
pasar Gemawang, ia berhenti. Mengamati dari kejauhan sesosok muslimah yang
sedang asyik membuka mushaf di keramaian pasar. Saat sepi pembeli, perempuan
itu kembali menekuni mushafnya.
Kadang-kadang
ia pura-pura membeli sesuatu di dekat los perempuan itu. Ekor matanya melirik
melihat bagaima perempuan itu bertransaksi. Dadanya berdebar keras, ketika
tanpa sengaja aktifitasnya dilihat oleh Fatimah. Perempuan itu segera
menundukkan pandangan, tertangkap oleh mata Faisal bagaimana wajah tersipunya.
Buru-buru Faisal meninggalkan area pasar.
Di
hari lain, Faisal mengalami kejadian yang tak terduga. “ Ngapunten Pak, pisangnya ada
beberapa cacat. Tadi saya kurang teliti memeriksanya. Kalau Bapak ngersake,
nanti harganya saya beri di bawah harga pasar,” jawab Fatimah atas caci maki
seorang Bapak yang hendak membeli pisang. Kebetulan Fatimah tidak tahu kalau
ada beberapa cacat di tundunan pisang yang ia tawarkan pada si Bapak. Faisal
terkesima, tanpa ia sadari ia terpaku di dekat los Fatimah. “Ehmm betul kata
mbaknya Pak, saya yakin itu bukan kesengajaan. Dalam jual beli yang penting ada
kerelaan dari kedua belah fihak,” sahutnya membela Fatimah. Sungguh ia tak rela
perempuan sholihah itu dicaci maki oleh si Bapak.
Investigasinya
pada Fatimah diketahui oleh Kyai Mukhlis. “Kamu mau serius dengan Fatimah Le?”
Tanya beliau di siang itu. Faisal tersipu. “Pilihanmu sangat tepat, tapi apakah
Bu’e akan setuju dengan pilihanmu?”
Faisal mengedikkan bahunya, “ tidak terlalu yakin
pak Kyai.”
“Mintalah
pada sang pemilik hati, Le. Semoga Allah memudahkan urusanmu,” nasehat
Kyai Mukhlis sambil menepuk punggungnya.
--**--
“Bu’e,
Faisal sudah punya keputusan,” kata Faisal saat ia dan sang ibu berjalan pulang
dari Langgar selepas jamaah sholat
subuh. “Alhamdulillah, kalau begitu, ayo masuk lagi ke Langgar, ibu ingin
jawabanmu juga didengar kyai Mukhlis, supaya kita mendapat nasehat dari beliau ,”jawab
ibunya.
“Begini
Bu’e, semua calon yang Bu’e ajukan alhamdulillah luar biasa. Cantik semua, nasabnya bagus, dan
sebagian berasal dari keluarga yang kaya. Faisal sangat menghargai itu. Setelah
Faisal bermunajat selama 1 pekan ini, hati Faisal mengatakan, alangkah ruginya
laki-laki yang meninggalkan wanita yang cantik hatinya dan lebih memilih wanita
yang cantik fisiknya. Maka Faisal meminta rida Bu’e untuk meminang Fatimah, janda beranak satu yang sehari-hari
jualan pisang di pasar Gemawang. Ia
adalah wanita dengan kecantikan hati. Wajahnya bercahaya karena keimanannya.
Tuturnya penuh hikmah dan tingkah lakunya sangat menjaga kesucian dirinya,”
jelas Faisal dengan penuh kehati-hatian. Ia tak berani menatap wajah sang ibu.
Ia bayangkan, betapa wanita yang dikasihinya itu akan sangat kecewa. Beliau
tentu mengharapkan calon istri anaknya adalah perempuan yang memiliki kriteria
seperti orang kebanyakan. Cantik, kaya, kariernya bagus, dari keluarga priyayi.
Apalagi kini, ia adalah sosok yang begitu banyak diharapkan oleh perempuan.
Laki-laki dengan karier yang sedang melambung dan wajah yang cukup membius kaum
hawa.
Bu
Surati terisak-isak. Ia pegang kedua bahu Faisal. Lalu memeluknya. “Engkau
betul-betul laki-laki yang mewarisi kesholehan Bapakmu. Maafkan Bu’e
atas ujian yang Bu’e berikan padamu. Engkau lulus Le.”
Faisal
terperangah. Ia menepuk jidatnya. Jadi Bu’e sedang mengujinya?
Pojok swadaya, 14 Desember 2016
SURAESIH SMKN I TEMANGGUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar